Yerri: Penebangan Pohon untuk Mengurangi Risiko Angin Puting Beliung Dapat Menjadi Kontraproduktif

*Tulisan ini diambil dari status facebook Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kota Metro, Yerri Noer Kartiko (21/11).

Tulisan pada kolom status serta lini masa media sosial ini, merupakan pemenuhan atas janji saya untuk memberikan tanggapan tertulis terhadap pertanyaan yang diajukan oleh salah satu rekan saya di luar kota semalam.

“Sedikit terpaksa” berjanji untuk mem-“pending” diskusi online tentang penebangan pohon , sebab kondisi tubuh yang tengah meriang tak lagi mampu melawan kantuk yang menyerang kedua mata.

Salah satu hal yang menyebabkan adanya angin puting beliung yang sering kali terjadi beberapa waktu terakhir ini adalah “perubahan cepat” yang dialami oleh dua kondisi udara yang perbedaan temperaturnya ekstrim. Sebagai sebuah ilustrasi, dampak momentum dan/ atau impuls kendaraan bermotor yang tengah melaju dengan kecepatan tinggi kemudian dihentikan secara mendadak.

Salah satu hal yang menyebabkan perbedaan temperatur yang ekstrim dan perubahan temperatur udara yang mendadak adalah pemanasan global (global warming) yang berdampak pada perubahan iklim (climate change). Salah satu hal yang menyebabkan pemanasan global ini adalah penebangan pohon dengan skala yang relatif masif.

Dalam peristiwa angin putting beliung, fungsi pohon ibarat struktur pemecah gelombang di pantai. Dengan demikian, penebangan pohon yang dimaksudkan untuk mengurangi risiko angin putting beliung dapat menjadi kontraproduktif.

Penebangan pohon justru akan menjadi katalisator yang mempercepat terjadinya pemanasan global. Bila tidak ada pohon, maka yang memungkinkan menjadi sasaran angin puting beliung adalah bangunan rumah, yang kemudian probabilitas untuk menyebabkan korban nyawa lebih banyak. Dengan demikian, bila pohon dipertahankan, ketika terjadinya angin putting beliung, maksimal pohon akan tumbang, dan belum tentu pula terkena bangunan yang kemudian yang kemudian, akan merasakan kerugian adaah manusia, misalnya kehilangan nyawa dan/ atau property.

Ketiadaaan pohon dapat menyebabkan perubahan struktur tanah yang sulit untuk menyerap air. Air sebagai konduktor listrik, yang tidak cepat terserap ke dalam tanah, dapat menjadi media untuk “mengundang” petir. Terlebih lagi apalagi kondisi tanah berkarakter lebih asam (yang salah satunya disebabkan oleh terdepositnya pupuk dan/ atau pestisida berbahan kimia), kandungan atau konsentrasi ion H (+) lebih banyak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *