Ramadan dan Hari Lingkungan Hidup

Oleh: Yerri Noer Kartiko (Sekretaris Dinas lingkungan Hidup Kota Metro)

PADA tahun ini, Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environment Day) yang diperingati setiap tanggal 5 Juni, jatuh pada bulan suci Ramadan. Seolah selaras dengan tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia, semoga Ramadan 1348 Hijriah ini merupakan momentum penting bagi manusia, khususnya kaum muslimin untuk membebaskan diri dari ancaman bencana alam sebagaimana memerdekakan diri dari godaan setan.

Sebagaimana telah dirilis secara resmi oleh United Nation for Environment Protection (UNEP), tema peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2017 ini adalah Connecting people to nature, menghubungkan manusia kepada alam. Secara sederhana, tema ini bermakna meningkatkan kesadaran manusia untuk senantiasa melakukan tindakan pelestarian alam sehingga dapat mempererat hubungan antara manusia dengan alam.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa sampai dengan saat ini frekuensi dan magnitudo bencana alam makin bereskalasi dengan severity level makin besar seiring dengan bertambah banyaknya ragam kebutuhan manusia yang harus dipenuhi, seolah tidak mengenal batas kepuasan. Faktor yang berkontribusi terhadap tingginya severity level bencana alam ini adalah sifat serakah manusia, mengukuhkan diri sendiri sebagai subjek yang berkeyakinan bahwa setiap kebutuhannya harus dipuaskan dengan cara mengeksploitasi alam.

Fenomena ini telah dinyatakan dalam kitab suci Alquran, Tuhan telah melarang manusia untuk merusak alam, tetapi manusia justru merasa sebagai pihak yang senantiasa memperbaiki alam, sedangkan manusia tidak menyadari kerusakan yang ditimbulkannya. Surah lain dalam Alquran menyatakan bahwa perilaku manusialah yang menyebabkan terjadinya kerusakan alam, yang dari kerusakan tersebut Tuhan akan menurunkan cobaan, salah satunya berupa kekeringan dan kelaparan.

Ramadan merupakan momentum tepat bagi kaum muslimin untuk melakukan penjernihan jiwa serta medan latihan pengendalian nafsu karena iblis atau setan sebagai simbol keburukan dibelenggu oleh Tuhan. Selain itu, Ramadan juga sebagai sarana refleksi serta introspeksi diri dalam merevitalisasi fitrah manusia.

Manusia sebagai wakil Tuhan di bumi sudah selayaknya menjaga dan merawat bumi beserta seluruh isi yang terkandung di dalamnya. Di sisi lain, tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Tuhan. Dalam kerangka ibadah ini, terdapat tiga dimensi relasi, relasi manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia dan manusia dengan alam.

Bila pemahaman makna ibadah ini diperluas menjadi tunduk patuh dengan penuh hormat dan penghargaan, dalam hal hablun minal alam, manusia menghormati dan menghargai alam. Hal ini seolah menjadi tatakrama, yang kecil menghormati yang lebih besar, yang muda menghargai yang lebih tua. Ketundukan dan kepatuhan manusia terhadap alam ini ditunjukkan dengan upaya manusia yang senantiasa beradaptasi, menyesuaikan diri sendiri secara harmonis, selaras, senada, serta seirama dengan situasi dan kondisi alam.

Puasa dan Alam

Beberapa hal ini dapat mendorong mindset shifting terhadap korelasi antara manusia dengan alam, dari antroposentrisme menuju biosentrisme dan ekosentrisme, bukan lagi subjek dan objek penderita, melainkan subjek yang saling memengaruhi. Kualitas hidup manusia bergantung pada kualitas alam dan begitu pula berlaku sebaliknya.

Aktivitas saum yang dilaksanakan sepanjang Ramadan merupakan ajang latihan pengendalian segala macam nafsu bukan hanya terhadap hal-hal yang haram, melainkan juga terhadap hal-hal yang halal. Hasil latihan ini diharapkan dapat menjadikan manusia memiliki pengendalian nafsu yang memadai dalam berbagai ragam kecerdasannya, yaitu intelektual, emosional, spiritual, spasial, dan interpersonal. Dengan bekal sikap arif dan bijaksana ini, manusia memilih dan memilah secara hati-hati segala aktivitas dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidupnya, antara perilaku yang bermanfaat dan perilaku bermudarat.

Dalam aktivitas pemenuhan kebutuhan hidup ini, manusia yang arif dan bijaksana akan menerapkan prinsip memanfaatkan sumber daya alam sesedikit mungkin untuk mendapatkan manfaat sebanyak mungkin dalam kehidupan, dengan meminimalkan dampak buruk serta memaksimalkan dampak baik terhadap lingkungan. Konsep ini menjadi salah satu prinsip dasar green economy. Dalam aktivitas industri, pemanfaatan bahan baku dan pengoperasian proses produksi yang menerapkan prinsip tersebut di atas, secara sederhana dikenal dengan sebutan green industry, beberapa pihak menyebutnya pula sebagai produksi bersih.

Dalam hal konsumsi, misalnya, memilih untuk mengonsumsi bahan-bahan yang sesedikit mungkin menghasilkan sampah atau mengatur aktivitas konsumsi sedemikian rupa sehingga mengonsumsi hanya bahan-bahan yang dibutuhkan, pada saat dan tempat yang diperlukan. Hal ini disebut dengan istilah green consumption, yang menjadi dasar pembentukan perilaku ramah lingkungan (green lifestyle).

Sinergitas antara green industry dan green comsuption, green economy, juga green lifestyle merupakan sikap-sikap yang harus senantiasa ditumbuhkembangkan untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.

Melalui semangat yang terkandung dalam serangkaian ibadah Ramadan, kaum muslimin dapat menjadi role model sekaligus aktor yang berperan aktif untuk menggerakkan motor upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup serta pelestarian alam agar bumi dapat menjadi miniatur surga, bukan hanya bagi manusia pada saat ini, melainkan juga generasi masa mendatang, sebagaimana telah dijanjikan Tuhan dalam kehidupan akhirat kelak. Dengan demikian, paripurnalah tugas kaum muslimin sebagai agen pembawa kebaikan untuk seluruh alam raya (rahmatan lil alamin).[]

*Tulisan ini terbit di lampost.co pada 5 Juni 2017, dimuat ulang untuk tujuan pendidikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *