Multiple Ecological Suicide

Penulis: Yerri Noer Kartiko (Sekretaris Dinas LH Kota Metro)

Kemampuan serta kapasitas tanaman untuk menyerap karbondioksida dan menghasilkan oksigen terbatas. Dengan demikian, semakin banyak dan bervariasinya tanaman, secara sederhana dapat diperkirakan akan semakin banyak pula karbondioksida yang terserap dan oksigen yang dihasilkan.

Pada usia tertentu, meskipun bervariasi, tanaman tidak lagi efektif untuk menyerap karbondioksida dan menghasilkan oksigen, meski tetap dapat ber-fotosintesis. Seperti juga makhluk lainnya, tanaman pun memiliki batas usia produktif dan usia hidup. Dengan demikian, perlu peremajaan dan penanaman kembali.

Tingginya beban pencemaran, banyaknya emisi zat pencemar yang relatif lebih banyak atau berat, menyebabkan lebih cepatnya penurunan kemampuan tanaman untuk ber-fotosintesis, bahkan mati. Dampak ikutannya adalah tingkat pencemaran udara bertambah tinggi, daya tampung dan daya dukungnya pun turut pula menurun.

Kondisi ini agak diperparah oleh adanya kebakaran hutan dan lahan, penebangan pohon perambahan hutan tanpa izin (illegal logging), penebangan pohon yang tumbuh di luar hutan, berkurangnya ruang-ruang terbuka hijau, berkurangnya lahan-lahan untuk menanam pohon.

Dari sudut pandang tanaman produksi, kondisi dan situasi lingkungan udara tidak menguntungkan untuk menghasilkan. Untuk menjaga dan meningkatkan produksinya, dipilihlah pemberian pupuk kimia dengan frekuensi dan kuantitas “berlebihan”. Pada kondisi perubahan iklim, nama-nama jenis tertentu dapat menjadi lebih aktif (kembali). Untuk melakukan kegiatan pemberantasannya, juga dilakukan pemberian pestisida berbahan kimia, yang juga frekuensi dan kuantitasnya terbilang “berlebihan”. Unsur-unsur kimia ini “terdepositnya” di bagian-bagian tanaman “yang dipanen”, selanjutnya dikonsumsi, baik langsung maupun melalui jalur rantai makanan. Terjadilah bio-accumulation, yang secara praktis terjadi adalah bio-multiplication.

Banyaknya zat pencemar di udara kemudian “fall” ke tanah melalui hujan. Pada pemanasan global, temperatur tinggi, semakin mempercepat proses vaporisasi zat-zat kimia, khususnya yang volatilitasnya tinggi, yang sebelumnya terdeposit atau terlarut atau tersuspensi di air atau tanah, lantas kemudian memperbanyak konsentrat di udara, dan “fall” kembali.

Bahan-bahan kimia yang tak terdeposit di dalam bulir-bulir tanah, sebagai “residu” terbawa oleh aliran air hujan, kemudian memasuki area-area perairan, terkonsumsi oleh biota, flora dan fauna area perairan tersebut, kemudian berpotensi menyebabkan kematian atau berkurangnya bahkan. punahnya keanekaragaman hayati di area perairan.

Untuk geometri dan dimensi area perairan terbuka, terkadang menyebabkan semakin cepatnya pertumbuhan tanaman model eceng gondok, yang berpotensi untuk mempercepat pendangkalan area perairan, dan berpengaruh terhadap nilai BOD dan COD air. Dangkal dan sempitnya area perairan terbuka berarti semakin berkurang daya tampung limpasan dan limpahan air hujan, yang kemudian terjadilah banjir.

Banjir diperparah pula oleh beban permukaan bumi yang menanggung beban bangunan-bangunan gedung yang berdiri di atasnya, sementara pada bagian bawah permukaannya, “bolong” sebab air serta bahan-bahan tambang serta mineralnya dieksploitasi secara berlebih-lebihan.

Akhirnya, selamat menikmati dampak ketidakwarasan gaya hidup kita terhadap alam, lingkungan dan semesta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *