Sampah

Dharma Setyawan (Penggiat Bank Sampah CangKir Hijau Kota Metro Lampung)

Soal sampah bukan hanya tugas Dinas Lingkungan Hidup tapi juga tugas semua orang di kota ini. Sampah bukan hanya tanggungjawab petugas kebersihan, tapj tugas setiap manusia yang setiap hari menghasilkan sampah.

Malam hari pukul 21.00 WIB, datang Mustafa bersama istri dan anaknya Rasyid. Mengejutkan bagi saya, pemuda umur 25 tahun ini datang malam hari silaturahmi dan bercerita soal aktifitasnya setiap hari. Mustafa terakhir bertemu saya 1 minggu yang lalu dan sebelumnya juga bertemu di kantor kecamatan Metro Barat di forum Kampung Iklim.

Keseharian Tofa (panggilan akrabnya) adalah petugas kebersihan sampah di seputaran 16 c menggunakan motor bentor. Umur 21 tahun dia telah memutuskan untuk menikah tepatnya pada tahun 2013. Dalam status sudah menikah itu Tofa juga memutuskan untuk kuliah di IAIN Metro di jurusan Ekonomi Syariah. Sekarang Tofa semester V dan masih menjalani aktifitas kuliah sebagaimana mahasiswa lainnya. Jam 4 pagi dia harus bangun untuk segera keliling komplek warga, mengambil sampah di pagi hari. Dia juga mendapat tugas dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Metro untuk menjaga kebersihan di Lapangan Mulyojati Metro Selatan bersama rekan-rekannya.

Dari awal saya mengajar Tofa di kelas, saya sudah jatuh hati dengan aktifitasnya. Tidak banyak orang punya pilihan hidup untuk mau menjalani kuliah dengan kesibukan bekerja apalagi setelah menikah. Sebelumnya, Tofa pernah kuliah di Sekolah Tinggi Olahraga (STO) baru dapat 1 semester namun memilih untuk keluar karena tidak kuat biaya. Tofa adalah anak sulung dan masih memiliki 2 adik. Ayahnya sudah meninggal, dan Ibunya sudah menikah lagi. Ibunya membuka usaha warung. Ayahnya meninggalkan 4 kamar kontrakan untuknya tapi sekarang kontrakan tidak laku karena sepi peminat. Rencana kalau ada rezeki dia akan renovasi dan ditempati untuk rumah.

Kemauan untuk kuliah bukan pilihan mudah, kadang harus membagi waktu. Saat pemerintah kota banyak kegiatan atau ada ada event besar di Taman Mulyojati, Tofa harus siap siaga. Jika ada kegiatan Pemerintah maka dia harus standby untuk mendapat instruksi bergerak bersama petugas kebersihan lainnya. Apalagi terakhir konser Band Noah di Taman Mulyojati, sampah yang dihasilkan sampai 3 hari baru selesai dibersihkan.

“Membersihkan sampah itu ya hal biasa Pak, yang payah ini beban soal warga yang buang sampah bukan pada tempatnya, tapi dikasih tahu malah ngelawan. Apalagi kalau oknum pejabat dari berbagai kalangan, beberapa kali saya berdebat dengan mereka di lapangan.”ujarnya bercerita.

Menurut Tofa masih ada oknum-oknum yang terdidik dan juga abdi negara, tapi tidak mengindahkan soal membuah sampah pada tempatnya. “Saya malah pernah pak dilempar botol Aqua gara-gara menegur oknum yang ketahuan membuang sampah sembarangan. Yang lebih parah lagi mereka yang menjadikan jembatan kali sebagai tempat membuang sampah.” tambah Tofa.

Tofa juga bercerita bahwa Pemerintah tidak kurang-kurang melakukan sosialisasi untuk tidak membuang sampah sembarangan. Tapi hemat saya pribadi memang soal sampah bukan hanya tugas Dinas Lingkungan Hidup tapi juga tugas semua orang di kota ini. Sampah bukan hanya tanggungjawab petugas kebersihan, tapj tugas setiap manusia yang setiap hari menghasilkan sampah.

Tofa menuturkan,”Kalau para petugas kebersihan ini libur 2 hari saja, maka kawasan sepanjang jalan jalur 2 Rumah Sakit Mardiwaluyo itu akan penuh dengan sampah. Sampah yang diangkut oleh mobik truk sampah itu dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di 23 Metro Utara. Pernah pas lebaran itu 1 hari tidak dibersihkan, itu aja sampahnya sangat banyak. ”

Jembatan Kali Bunut 29 Metro Utara juga sering menjadi tempat pembuangan sampah. Mereka bahkan membuang sampah setiap pagi dan sore hari saat sepi. Memang perlu ada penjagaan di setiap tempat yang menjadi sasaran warga untuk membuang sampah. Bisa dengan mengerahkan Satpol PP atau memberi reward bagi warga yang bisa memfoto oknum pembuang sampah sembarangan, lebih-lebih bagi mereka yang membuang sampah di aliran air. Lalu Pemerintah membuat aturan denda bagi mereka yanh buang sampah sembaranagan. Dendanya sebagian untuk pelapor dan sisanya untuk petugas kebersihan.

Tofa juga bercerita kalau target retribusi sampah tahun ini akan ditingkatkan. Pendapatan dari retribusi sampah di kota ini setelah saya ketahui dari Tofa cukup besar. Hanya saja sulit untuk membuat retribusi ini terkumpul dengan baik tanpa kebocoran. Pertama, masalah sumber daya manusia pengambil retribusi dan kedua soal transparansi sumber potensi retribusi sampah di Kota ini.

“Semua sampah itu pada dasarnya bernilai Pak, tapi kalau udah kecampur ya susah milahnya. Saya setiap 2 hari sekali aja buang sampah di bak penampungan sementara di pasar 24 Tejo Agung. Saya pakai bentor yang bisa otomatis jengatan seperti dumptruk. Nanti pemulung pagi hari udah nunggu, bahkan sering sms tanya apakah hari ini buang ke bak penampungan? Ya lumayan bagi mereka pagi hari bisa dapat 50 ribu. Kalau saya ada rezeki lebih, ya setelah itu tak ajak ngopi Pak. Kemarin mereka dapat 3 aki bekas Pak dari sampah yang tak bawa. Ya lumayan kalau dijual satunya 10 ribu udah dapat 30 ribu pagi kemarin. Belum pendapatan sampah lainnya.” tambah Tofa yang tidak sungkan di kelas menggunakan seragam petugas kebersihan.

Saya kira benar apa yang disampaikan oleh Tofa. Ada kendala saat warga tidak memisahkan sampah saat dari rumah tangga sampai dibuang ke TPA. Artinya, ada persolan hulu yang harus dibenahi. Sampah sebagai potensi pemasukan mestinya bisa di roadmap sedemikian rupa sehingga sampah bisa dipilah sejak awal.

Pada dasarnya pemerintah tidak perlu menarget pendapatan dari sampah. Bila perlu pengelolaan potensi sampah menjadi gerakan warga. Pertama, mengintruksikan 22 Lurah se kota Metro untuk mengondisikan RT/RW agar warga mulai memilah sampah secara mandiri. Hasil dari sampah Non-organik yang memiliki nilai akan menjadi kas RT/RW untuk kepentingan bersama. Hal ini akan melatih warga untuk mulai menanggalkan tradisi individual dan mengembalikan budaya gotong royong.

Kedua, Petugas Kebersihan seperti Tofa dan yang lain yang digaji pemerintah bertugas mengambil sampah dan mendapat pembagian berapa persen dari kesepakatan antar kelurahan. Jika sampahnya banyak tentu bebannya berat maka pembagiannya harus berdasar pada porsi persen, misal 15%.

Ketiga, Pemerintah memberi reward bagi RT/RW, Lurah, dan Petugas kebersihan yang paling baik dalam pengelolan sampah. Mulai dari Organik jadi pupuk sampai non-organik jadi nilai ekonomi.

Ketiga hal ini upaya gagasan, menanggapi Tofa yang menyatakan bahwa kegagalan Adipura kita karena TPA di kota Metro sudah melebihi kapasitas. Upaya ini juga upaya memotong tradisi membuang sampah harus sampai di TPA. Saya rasa, masyarakat 23 Metro Utara sudah jenuh dengan bau sampah di wilayahnya. Apakah elok kita yang nyampah mereka yang terus menikmati baunya?[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *